Sabtu, 15 Januari 2011

dan hujan menceritakannya

sejak bulan kemarin malam

kita mulai menghitung waktu yang tercecer

tertinggal entah dimana

atau kita yang tak ingat waktu?

sedang langkah tak lagi padu



sejak bulan kemarin malam

kau mengasah pisau tajam

membuang ingatan sayang

dan bekal perasaan



sore ini hujan, kawan

membanjiri air mata

kau simpan pun percuma

hujan menceritakannya sepanjang jalan

perempuan yang kupanggil ibu

waktu enggan mempertemukan kita di sudut simetris ruang

pun abstraknya hati

tak selalu kita artikan sepadan

rinduku adalah sepotong senja

mengantarkan kita pada gerimis

melabuhkan ingatan tua

pada jendela yang tak lagi sama

pun, selalu ada salah satu dari kita di sana

senja adalah cara kita menemukan jalan pulang

sementara yang lain mulai menutup jendela

menyalakan lampu teras

dan menunggu

aku atau kau yang menjemput malam

Jumat, 31 Desember 2010

pada hujan yang sebentar

pada hujan yang sebentar 1

seiris senja kita bagi dua
barat dan bunga yang layu
sambil menunggu hujan berhenti
kau bercerita

harga-harga memang naik
kereta ekonomi juga
tapi aksi adalah harga mati

kau berangkat melampaui senja
di gerimis yang panjang
menanggalkan senja yang lain
di ujung hari lain



pada hujan yang sebentar 2

aku suka sekali jendela kita
menghadap selatan, menyambut setiap yang datang
tanpa letih meski kecewa menggumpal
menyunggingkan senyum miris
gerakan mahasiswa kacau, keluhmu

jendela yang terbuka mengantarkan angin sore
kadang membuat masuk angin, saat
hujan turun deras, walau sebentar
tapi tak pernah kita tutup

caramu tertawa mengingatkanku, pada
ombak yang mengalun tak berirama
menggugat rasa yang kupaksa
mati kehujanan setiap kau tak peduli kata




pada hujan yang sebentar 3

jam dinding kita rusak
aku berdendang menghitung waktu
melawan suara hujan di kejauhan
makin keras derunya
seperti dentuman di dadaku
kenapa kau tak kunjung memberi kabar?

kebasahan kau masuk tiba-tiba
melupakan waktu dan cerita
mengejar hujan yang sebentar
karena malam ini akan kelam
kau hanya tunjukan bintang
bahkan tak tampak warnanya

aku melihat hujan
mengantarkanmu sebentar
pamit lagi membawa hujan di jaketmu
kapan kau berakhir?

Belajar dari Warna-Warni Lalu

Kenapa seseorang memiliki masa lalu hingga menjadi kenangan?

Kenapa masa lalu setiap orang tak selalu baik hingga meninggalkan aib?





Siang ini saya berkesempatan kuliah bersama mahasiswa 2008, anak-anak semester 5 yang nampak semangat 45’.

Kuliahnya menarik, bahkan saya merasa lebih bersemangat kuliah di tahun ini.

Saya sempat berpikir (sedikit menyesal tepatnya), kenapa saya harus kuliah semester ini.

Kenapa dua kali saya mendapat kesempatan kuliah mata kuliah ini saya sia-siakan dengan tak pernah masuk kuliah.

Coba kalo saya sudah mengambil kuliah ini dua tahun lalu, mungkin saat ini saya sudah ujian, imaginasi saya berputar.





Tak pernah bermaksud menyalahkan kesibukan saya kala itu.

Pilihan aktivitas di luar daripada duduk tenang di dalam kelas.

Sadar betul bahwa kesalahan ada pada menejemen saya yang buruk.





Pikiran saya kembali berputar, kenapa ya setiap orang memiliki masa lalu dan kenapa tidak semua orang memiliki masa lalu yang baik.

Tidak semua orang menjadi baik sejak lahir.

Tidak semua orang bersih sejak baligh.





Ada yang pernah nakal di masa kecilnya, bertindak sembrono di kala remaja atau bahkan tak tahu jalan ketika dewasa.

Ada fase kehidupan yang bukan putih, bisa saja hitam, abu-abu, biru, merah, hijau dan ungu.

Masa lalu.

Pernah saya meminta pada Tuhan agar menghapus ingatan saya pada salah satu fase dalam hidup yang tidak saya sukai.

Benar-benar berharap hilang ingatan pada babak-babak itu.





Kemudian saya berpikir ulang, apa jadinya jika saya tidak memiliki masa lalu, tidak memiliki aib.

Saya jelas bukan Muhamad saw yang ma’shum lagi rendah hati.

Dan jika saya tak memiliki masa lalu yang penuh keisengan itu bisa jadi-dengan mengukur diri saya- saya pasti akan menjadi orang yang sombong lagi angkuh.

Menjadi seseorang yang tak akan pernah bertoleransi kepada kesalahan orang lain.

Menjadi orang pertama yang menyalahkan ketika ada orang yang berbuat alpa.

Bagaimana lagi, saya manusia tanpa salah coy.

Bisa jadi itu sikap saya jika saya tak memiliki fase hidup yang warna-warni.





Tiba-tiba saja saya bersyukur pernah melewati warna-warna hidup selain putih.

Merasa diberi kesempatan untuk belajar dan memahaminya di fase selanjutnya.

Begitu juga dengan kuliah yang saya ambil di semester ini.

Saya sudah diberi dua kesempatan kuliah di tahun-tahun sebelumnya, tapi rupanya Alloh benar-benar baru mengijinkan saya mengikuti mata kuliah ini tahun ini, di semester sembilan.

Alloh benar-benar membuat hidup saya tak sempurna, Ia tak selalu mengabulkan semua keinginan saya namun Ia selalu memberikan dengan tepat apa yang saya butuhkan di waktu yang tepat.

Sungguh.

Rabu, 08 Desember 2010

Prestasi Kepemimpinan Kita

Bagaimanapun caranya engkau lahir ke dunia, kau telah dijemput takdir untuk menjadi seorang manusia. Makhluk dengan keluwesan akal pikiran untuk memahami konsep vertical horizontal kehidupan. Hubungan transedental ketuhanan dan social kemasyarakatan. Tak berlebihan jika manusia mengantongi gelar makhluk sempurna dalam jajaran hamba Allah lainnya.

Sama halnya dengan kelahiran manusia menjadi pemimpin. Peran kekhalifahan yang tak mampu diemban langit, ditolak gunung dan ditampik bumi. Ada pemimpin yang dilahirkan karena sengaja disiapkan dengan beragam treatmen, ada pula pemimpin yang lahir karena momentum, situasi yang memaksa. Toh keduanya selalu berkaitan dan saling mempengaruhi. Seorang pemimpin yang lahir karena momentum paling tidak pernah menyiapkan dirinya menjadi pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Mengelola akal, hati dan jiwa yang melekat padanya. Torehan Prestasi Pedang Allah

Tak ada yang menyangka, lelaki yang menggentarkan kaum muslim dalam perang Uhud- perang yang mengantarkan banyak sahabat dan para penghafal Al Qur’an syahid di medan jihad, di kemudian hari justru menjadi komandan perang kaum muslim.
Ialah Khalid Bin Walid, seorang yang memohon kepada Rasulullah agar memintakan ampun pada Allah atas masa lalunya begitu ia berbaiat masuk islam kelak kita kenal sebagai pedang Allah Yang Terhunus. Bukan semata karena ketangkasannya berperang namun juga kecerdikan strateginya hingga mampu menundukkan kaum murtad, membumi ratakan kerajaan Persia dan Romawi hingga menjelajahi bumi Irak dan dimenangkannya islan di tanah Syiria. Prestasi sejarah yang Allah catatkan untuknya semasa menjadi komandan perang kaum muslim.
Catatan prestasinya tak menjadikan Khalid menjadi panglima yang serakah, lihatlah bagaimana seruannya sebelum perang melawan Romawi,
“Hari ini adalah hari-hari Allah. Tak pantas kita di sini berbangga-bangga dan berbuat durhaka. Ikhlaskan jihad kalian dan harapkan ridha Allah dengan amalmu. Mari kita bergantian memegang pimpinan, yaitu secara bergiliran. Hari ini salah seorang memegang kepemimpinan, besok yang lain, lusa yang lain lagi sehingga seluruhnya mendapat kesempatan memimpin.”
Kerendahan hati yang lembut kita rasakan dalam kata-katanya yang mengguah. Tak heran, ketika khalifah Umar bin Khatab mengganti posisi komandan perang dengan Abu ‘Ubaidah, Khalid dengan kejujuran dan kerendahan hati yang mendalam mengungkapkan bahwa, sama saja baginya menjadi panglima ataupun prajurit. Masing-masing membawa kewajiban yang harus ditunaikan kepada Allah yang ia imani.
Berbekal Tekad Yang Menghujam
Bagaimana dengan prestasi kita dalam memimpin, sedangkan profil kepemimpinan kita terang dilihat dari bagaimana titah kita memimpin diri. Bagaimana nurani mampu mempengaruhi keputusan dan hati menjadi raja atas akal bukan menjadi budak atas nafsunya. Karenanya, menjadi pemimpin juga perkara tekad, bukan sekedar torehan pretasi. Azzam yang kuat untuk mengelola jasad, akal dan hati.
Sementara kita kebanyakan terbiasa dengan sesuatu yang instan, menginginkan semua siap saji tanpa perlu waktu dan proses yang matang. Tidak ada tekad yang kuat untuk melakukan sesuatu. Inilah kemiskinan yang menggerogoti jiwa-jiwa kita, miskin tekad. Tekad yang kecil dan lemah membuat kita tak memiliki orientasi
Bukankah Rasulullah saw adalah manusia biasa dengan tekad yang luar biasa. Impiannya membumikan islam bukan perkara membalikkan telapak tangan. Ada tekad yang lahir dari keyakinan dalam dadanya. Tekad yang membutuhkan kerja-kerja nyata. Tekad yang bukan sekedar ’ingin’ namun juga ’akan’. Tekad dengan usaha,
“…kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (terjemahan surat Ali Imron ayat 159)
Keberkahan Usia Kepemimpinan
Waktu menjadi catatan kepemimpinan yang mengikuti alur usia kita. Selama-lamanya masa yang kita habiskan untuk memimpin diri maupun orang lain, tidak menjadi jaminan prestasi kepemimpinan kita. Hakikat keberhasilan usia ada pada keberkahannya. Jika usia kepemimpinan yang panjang dapat benar-benar bermanfaat untuk kebaikan lebih banyak orang, itulah sebaik-baik kepemimpinan. Segala perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali pada pemimpin yang beriman. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Alif laammiim, janganlah ditanya kenapa, biar saja Allah yang tahu alasannya. Tugas kita sebagai muslim adalah menyiapkan lembaran sejarah kepemimpinan dengan mengoptimalkan segenap potensi kebaikan. Janganlah ditanya bagaimana kelak sementara momentum selalu datang lebih cepat daripada persiapan yang mampu kita himpun. Tugas kita adalah menghidupkan tekad kepemimpinan. Biar nanti takdir yang menjemput usaha kita. Jika kelak menjadi prestasi, maka biarlah ia menjadi jejak-jejak yang menginspirasi tiap generasi.
Partai TUGU UNY, Together with you..