Kamis, 02 Oktober 2014

Jelang Menyapih Dengan Cinta

Gegara status fesbuk mbak Fitri Iing soal anaknya yang sukses disapih, saya jadi galau. Bukan khawatir gak bisa nyapih tapi mendadak khawatir kehilangan.

Dengan semangat 88-tahun lahir bo, saya dan suami berkomitmen memberikan ASI pada anak kami hingga tuntas 2 tahun. Sebagai muslim, ada anjuran terkait itu dalam al quran. Selebihnya fakta berbicara soal kelebihan ASI yang tak tertandingi oleh susu lain, susu sapi segar, uht, formula, kental manis, lewat. Walaupun sih kami kadang kasih susu segar dan uht pada anak untuk rekreasi rasa, itupun setelah 1 tahun usianya.

Balik lagi soal sapih menyapih. Sejak hamil sakjane saya udah gabung grup ibu2 yang bahasannya salah satunya ini. Denger dan baca pengalaman teman soal menyapih dengan cinta.

Menyapih dengan kesiapan, tanpa paksaan dan tipuan. Kan banyak tuh ibu2 jadul yang nyapih dengan meletakan brontowali, kunyit, bahkan obat merah-beneran ada yg cerita gini, ke payudara mereka saat hendak menyapih.Menyapih dengan cinta ini anak diberi pengertian tentang masa berlaku disusui, hihihi. Piye jal memahamkan anak usia 2 tahun dengan konsep ini. Anak saya masih 3 bulan lagi melewati ritual sapih.

Namun menyapih dengan cinta ini juga diperbolehkan dengan menunda penyapihan sampai anak berhenti dengan sendirinya. Meski pemberian pemahaman dan usaha penyapihan tetep jalan ya. Biasanya ada anak yang ngotot tetep menyusu, gak papa.

Dari situlah saya merasa kudu menyiapkan strategi menyapih. Kudu ini kudu itu. Lah, jelang penyapihan malah galau. Gimana kalo Ammar dengan sukarela nolak ASI? Ah, rasanya sedih. Selama ini sih iya suka ngeluh kalo lagi riweh, bocil minta ASi. Lagi sakit, selalu nemplok ASI. Mo bobo, mimi ASI. Sampai pegel punggungnya berbaring miring untuk menyusui. Tapi kalo menyapih? Rasanya seperti berpisah. Seseorang yang selama ini bergantung pada kita, mulai lebih mandiri. Nak, Umi malah ngerasa belom siap T.T

Selasa, 30 September 2014

Resep Ikan Kakap Bumbu Bali

Setelah dari semalam ngidam ikan. Begitu bangun dari kenyataan, saya bergegas sercing resep olahan ikan. tepatnya abis shubuhan sih. Nemu yang asik, cap cus ke pasar pagi deket rumah daaan mulai masak.

Kali ini masak Ikan Kakap Bumbu Bali. Tadinya mau bandeng, inget durinya yang buanyak, beralih ke kakap. Resepnya aselinya pedes, demi si bocil, saya skip cabenya. Gantinya saya ulekin sambel bajak tersendiri. Sebagai variasi, saya menambahkan kemangi dan tomat hijau sebagai pelengkap.

Bahan :
Ikan kakap 1 ekor
Telor ayam rebus 3 butir
Tahu kuning 3 buah

Bumbu dihaluskan :
Bawang merah 7 butir
Bawang putih 4 butir
Kemiri 3 butir
Tomat ukuran sedang 3 buah (diblend)
Jahe secuil
Serai digebrek
Garam 1/2 sdt
Gula 1sdt
Minyak 3 sdm

Pelengkap :
Kemangi
Tomat ijo

Cara Membuat :
1. Cuci bersih ikan, keluarkan isi perut. Rendam dalam perasaan air jeruk nipis, garam dan merica bubuk selama 30 menit.
2. Goreng ikan dan tahu sampai kuning keemasan
3. Tumis bumbu halus, serai sampai harum, masukan tomat yang sudah diblend, tambahkan ikan, tahu, telur sampai bumbu meresap.
4. Masukkan kemangi, tomat hijau, garam, gula, aduk rata.
5. Angkat, sajikan bersama sambal bajak.


Ini tambahannya

Sambel Bajak:
1.Bawang merah 4 siung
2.bawang putih 2 siung
3.cabe rawit 7 buah
4.tomat ukuran sedang 1 buah
5.garam
6.gula
7.perasaan jeruk nipis
8.minyak

Potong-potong semua bahan sambel, tumis dalam minyak panas sampai layu, angkat. Ulek sampai halus, tambahkan garam, gula dan perasaan jeruk nipis. Hidangkan.

Total lama memasak sekitar 1 jam. 30 menit sendiri untuk menunggu ikan selesai direndam garam. Biaya bahan habis sekitar 20 ribu saja, sebagian bumbu kan udah ada di dapur :-)
Selamat mencoba


Rabu, 24 September 2014

Resep Nasi Briyani

Dulu habis makan nasi Briyani di Jakal, langsung naksir sama rasanya. Kaya rempah, gurih dan enaaaak. Sampai nyoba bikin sendiri dengan beberapa resep dari gugel. Secara, bikin sendiri lebih hemat dan puas. 

Relatif mudah pembuatannya meski bumbunya seabrek. Padu padan dari beberapa resep sampai nemu yang pass di lidah. Bahkan bikinnya di rice cooker. Mungkin ada perbedaan dengan resep aselinya, tapi buat saya  yang ini cucok. Sekali nyoba, pengin lagi. Nih resepnya :

Bahan:
1.Beras kualitas bagus 1/2 liter, rendam cuci bersih, 30 menit
2.Dada ayam 1/2kg, potong, cuci bersih, tiriskan dengan air jeruk nipis 15 menit, bilas.
3.Air
4.Yogurt 300ml, bisa susu murni/UHT
5.Bawang bombai
6.Bubuk kayu manis 1 sdt
7.Kapulaga 7 butir
8.Cengkeh 5 butir
9.Bubuk Pala 1/2 sdt
10.Bubuk kunyit 1/2 sdt
11.Lada bubuk
12.Garam
13.Serai, digebrek
14.Air jeruk nipis 3 sdm
15. Margarin untuk menumis

Bumbu halus:
Bawang putih 5 butir
Bawang merah 10 butir
Ketumbar
Kemiri
Jahe 1 ruas kecil

Pelengkap (optional) :
Acar, kismis, sayur panggang.

Acar :
Timun, tomat, wortel, iris kotak.
Bawang merah iris tipis

sayur panggang :
Brokoli, timun, panggang di atas teflon beroles margarin, bolak-balik selama 2 menit.

Cara membuat:
1.Ungkep ayam dengan ulekan bumbu halus, campur dengan bubuk kayu manis, kunyit, pala, kapulaga, serai, lada, garam, cengkeh. Biarkan 30 menit agar bumbu meresap.
2.Masak beras dalam ricecooker dengan sedikit air, tambahkan yogurt, perasan jeruk nipis.
3.Tumis bawang bombai sampai harum dengan margarin, masukkan ungkepan ayam. Masak hingga matang. Masukan ke dalam nasi yang setengah masak.Tambahkan kismis.

Cara membuat acar:
1.Didihkan air, campurkan cuka dengan perbandingan 10:1.
2.Masukan gula pasir dan garam.
3.Rebus wortel sampai setengah masak.Matikan api.
4.Tambahkan timun, tomat, bawang merah.
5.Sajikan

Catatan : 
sdm : sendok makan
sdt : sendok teh


Sabtu, 20 September 2014

Resep Ayam Kecap

Ahad ini mencoba menu baru di rumah. Sercing bentar di pakdhe gugel, langsung cocok sama menu ini. Gampang bikinnya, enak rasanya.
Jumlah bahan dan bumbu saya susutkan sesuai porsi rumah dan ketersediaan di dapur. Total waktu masak sekitar 30 menit.

Ayam Kecap
Bahan:
Ayam 1/2kg, cuci, tiriskan dg air jeruk nipis dan garam 5 menit, cuci lagi.
Bawang putih 4 siung, memarkan.
Bawang merah 5 siung, iris tipis.
Tomat 1 buah, potong kecil
Jahe seiris, memarkan.
Daun bawang, potong kecil.
Kecap manis, 5 sendok makan.
Garam secukupnya
Minyak goreng

Cara membuat :
1.Goreng ayam sampai matang tapi jangan sampai kering.
2.Tumis bawang putih dan jahe sampai harum. Tambahkan bawang merah.
3.Masukan ayam yang telah digoreng, tambahkan garam, lada dan kecap. Aduk rata.
4.Tambahkan tomat dan daun bawang. Angkat.
5.Hidangkan.

Kamis, 18 September 2014

Persalinan Nyaman ala Ochiko

Tanggal 26 Desember 2012 tidak pernah masuk list planing kelahiran anak pertama kami. Meski HPL (hari perkiraan lahir) debay kami 4 Januari 2012, kami sempat berharap kelahiran bisa terjadi secara alami di tanggal-tanggal cantik bulan Desember, 12-12-12 kek, 20-12-2012 kek, atau 31-12 biar sama kayak tanggal nikahan kami.

Melewati trimester kedua, kami mulai merencanakan persalinan pertama ini. Plan A kami persalinan dengan homebirth, waterbirth dan lotusbirth. Selama hamil, kami mendatangi 6 bidan di BPS (bidan klinik swasta), 4 puskesmas, 2 rumah sakit  guna mencari nakes (tenaga kesehatan) yang sesuai dengan birthplan kami sekaligus mensurvei beragam fasilitas kesehatan yang mau mengakomodir plan kami. Well, semua bidan yang kami temui di Sleman menolak untuk homebirth dengan alasan administratif, tidak lagi diperbolehkan dinas kesehatan setempat. Kami menyebrang kabupaten ke Bantul atas rekomendasi seorang kawan dan mendapatkan bidan yang mau mengakomodir homebirth asalkan persalinan terjadi di luar jam kerja dinasnya. Repot juga sih, saya kan tak bisa memastikan jadwal dan jam kelahiran debay kelak.

"Kalo terpaksanya unassisted gak pa-pa ya?" suami mulai mengusulkan dan mewacanakan ide itu dalam otak saya.
"Istikharoh dulu deh," tapi sejak itu, kesiapan untuk unassisted muncul dalam diri saya.

Memasuki pekan ke 37 usia kandungan, saya mulai galau menanti kelahiran debay. Berulang kali menanyakan ke suami, "kenapa debay gak lahir-lahir ya?", kata suami nunggu kami beli perlak buat alas ompol yang belum sempat dibeli. Seringkali komunikasi ke debay, "ayo shalih mau lahir kapan, umi udah kangen nih," paling cuma dijawab gerakan halus dari dalam perut yang artinya ambigu. Sampai nelpon Ibu segala, nanya ke ibu kenapa debay gak lahir-lahir, "lha wong HPL juga belum udah mau lairan," jawab ibu.

Aih aih, bukankah saya sudah berulangkali membaca, belajar dan mencoba memahami bahwa setiap bayi punya waktunya masing-masing untuk launching. Lebih tinggi lagi, tentu saja saya percaya takdir kelahiran seseorang sudah tertulis lampau. Lebih baik menghabiskan waktu jelang HPL dengan lebih optimal memberdayakan diri untuk sambut persalinan bukan? Nyatanya saya justru larut galau dan malah makin jarang menyiapkan diri.

Jalan kaki sehat ke pasar pagi makin jarang saya lakoni. Goyang inul pake gymball pinjaman umi Taqiyya makin jarang tersentuh. Senam hamil downloadan youtube tak lagi diputar. Yoga yang menguras keringat malas dijalani. Membaca artikel kehamilan pun lebih sering dilakukan suami daripada saya. Sampai fiksasi birthplan sampai ketok palu di bidan teakhir juga belum beres.

Jadilah saya bermalas-malasan tak memberdayakan diri di jelang kelahiran. Maunya yang enak-enak saja. Menyisakan latihan pernafasan perut (oleh-oleh latihan teater djadul) tiap pagi saat pup, rileksasi pijat endoprin, pijat perineum, having fun bareng suami, sampai mengkonsumsi nenas dan durian.

26 Desember 2012, 07.30an wib
"Tadi dedeknya gerak-gerak lho pas diajak ngobrol sambil nyanyi," suara suami membangunkan saya. Ia masih asik menyenandungkan lagu karangannya sendiri sementara saya belum sepenuhnya sadar dari tidur. Semalam mati listrik, saya tak bisa tidur sampai dini hari dan merasa masuk angin. Habis shubuh dan rutinitas matsurat, saya memilih tepar meski sempat diajak suami jalan pagi.

07.50an
Merasakan kontraksi pada perut yang sebelumnya belum pernah dirasakan. Ternyata memang rasa kontraksi itu berawal dari pinggang dan menjalar ke depan. Saat kontraksi berlangsung, rasanya gak bisa ngapa-ngapain selain bernafas. Toh saya pikir persalinan masih lama, kelahiran pertama gitu loh. Saya masih sempat jalan belanja keluar kompleks rumah. Pas kontraksi, saya berdiri salting di depan rumah orang. Mau jongkok kok ya malu. Sepulang belanja saya minta suami mulai mencatat waktu kontraksi sementara saya mulai memasak sambil sesekali jongkok menahan sensasi kontraksi. Usai sarapan malah suami ngajak nonton Habibie&Ainun yang rencana kami tonton kemarin. Haduh, rasanya udah gak berani keluar rumah lagi. Apalagi waktu kontraksi mulai berjeda 4-5 menit dengan lama 30-40 menit.

11.00an
Kontraksi terus berlangsung tiap 4 menit. Flek darah muncul. Saya meminta teman datang, membelikan perlak 2meter untuk antisipasi jika saya melahirkan di kasur, kurma dan nangka. Saya asik onlen sambil mendengarkan murrotal anak dengan bersandar pada gymball dan kantong kompres air hangat di pinggang. Suami mulai menyiapkan kolam tempat bersalin meski saya tak yakin akan melahirkan hari itu. Ia juga membeli minuman isotonik dan coklat, lumayan untuk mengalihkan rasa sakit. Oh ya, saat itu saya belum tahu kalo bidan yang sedianya akan membantu persalinan kami mengcancel dengan alasan beda wilayah kerja, tak tega beliau melanggar aturan dinas. Suami saat saya tanya hanya menjawab bahwa bidan sudah dihubungi. Kebetulan sudah ada teman yang siap menjemput juga. Kelak, ucapan kami soal unassisted justru dijabah Tuhan.

13.00an
Teman saya datang. Saya hampir tidak bisa apa-apa. Goyang inul dengan gymball sama sekali tak kuat dilakukan, cuma bisa goyang sambil bersandar ke tembok, itupun saat tak kontraksi sambil berusaha tenang menarik nafas perut. Saya berusaha mengalihkan sensasi kontraksi dengan beragam cara. Duduk salah, berbaring makin tak bisa bernafas, meringkuk tak enak. Jadilah saaat kontraksi berlangsung saya justru jalan kaki bolak-balik di dalam rumah. Saat rasanya begitu menjalar, saya berdiri memeluk suami. Ini efektif bagi saya untuk mengurangi sakit loh. Mungkin karena produksi hormon oksitosin yang meningkat dan membuat saya merasa lebih nyaman. Saat itu kontaksi mulai berlangsung 40-50 detik tiap 4 menit.

14.00an
Saya muntah. Semua menu makan saya keluar sempurna. Ini efek semalam begadang dan masuk angin. Suami sempat panik, sejauh referensi yang ia baca, tak ada kata muntah saat jelang persalinan. Rasanya justru lega, perut kosong dan hanya diisi teh manis setelahnya. Saya memilih duduk di dapur dan menghadap halaman belakang rumah yang terbuka. Menatap rumput dan udara terbuka rasanya jauh lebih segar. Saat kontraksi di waktu ini saya merasakan ada sesuatu yang robek di bawah sana. Saya gak tahu pembukaan berapa saat itu.
"VT ya?" suami menawarkan diri. Saya menggelengkan kepala kuat-kuat. Memang sih kami sudah membaca dan mencoba mempelajari soal pemeriksaan dalam sendiri. Tapi rasanya belum berani deh.


14.30an
Setelah sedari tadi menolak masuk kolam karena  ketuban belum pecah akhirnya saya mengikuti saran suami untuk relaksasi di dalam kolam. Ternyata berendam di dalam kolam relatif mengurangi sensasi gelombang rahim saat kontraksi. Saya mencoba beragam pose saat kontraksi di dalam kolam, duduk, jongkok, setengah berbaring, sambil sesekali menggenggam tangan suami yang berulang kali mengingatkan saya untuk mengoptimalkan pernafasan perut saat muka saya menunjukkan ekspresi hendak mengejan.

"Eh, kayaknya ada yang mau keluar. Ini ketuban ato kepala ya?" saya menarik nafas panjang mengeluarkan gelembung ketuban sebesar bola tenis yang perlahan mengempis sendiri di dalam air. Baru tahu begitu rasanya ketuban pecah di air.

Setelah ketuban pecah, terasa ada dorongan lebih besar dari dalam rahim. Waw, sungguh saya takjub sendiri ketika selesai menghembuskan nafas disertai mengejan (hehe, ini gagal mengatur nafas perut), keluar sendiri kepala bayi dari dalam.

"Yang, kepalanya keluar," teriak saya heboh bahagia. Suami tak kalah heboh dan bersemangat pengin segera melihat kelanjutan persalinan. Rasanya sudah bahagia sekali, saya sempat memanggil teman saya di ruang sebelah yang dipisahkan tirai, "Neng, kepalanya udah keluar loh. Kamu gak pengin liat?".
Rasanya waktu itu cepet banget. Dalam tarikan nafas selanjutnya badan debay meluncur sampai kakinya yang langsung saya terima dengan kedua tangan sendiri. Saya angkat ke dada begitu mendengar tangisnya meledak keras. Ia menangis. Sementara saya begitu takjub dan bahagia mendekapnya.

Saya langsung IMD (Inisiasi menyusui dini) begitu keluar dari kolam. Suami langsung riweh menghubungi bidan BPS terdekat yang dengan segera dijemput teman saya. Debay langsung diadzankan oleh suami saat sedang IMD sambil menunggu kedatangan bidan. Kami ngobrol dengan debay sambil sama-sama tak percaya atas kemudahan proses persalinan ini, alhamdulillah.

Bidan datang 15 menit kemudian dan kaget mendengar penutuan persalinan kami. Kami sempat mengemukakan keinginan menunggu plasenta keluar dengan sendiri dan lotusbirth. Setelah 30an menit tali pusat bayi tak kunjung turun sendiri, saya mempersilakan bidan membantu mengeluarkan plasenta. Tangan bidan juga masuk 3x ke dalam untuk memeriksa dan mengambil sisa jaringan plasenta yang tertinggal. Setelahnya, tentu saja masalah jahit-menjahit nan aduhai bagian perineum yang robek. Saya dijahit luar dalam, masuk level 2 deh. Selama dijahit, debay tetap nyaman berada di atas badan saya. Sudah gak IMD sih, dia tertidur usai mencoba mencari ASInya.

Lotus (membiarkan tali pusat mengering sendiri tanpa sengaja memutusnya) kami juga berjalan lancar meski saat itu bidan yang menangani kala 3 kami tak tahu soal lotus dan meminta kami menandatangani surat pernyataan penolakan pemotongan tali pusat dan vitamin K. Butuh waktu 4 hari sampai plasenta yang itu puput dengan sendirinya. Bayi kami baru ditimbang hari kelima. Beratnya saat itu 2,95kg dan tingginya 48cm. Kami memperkiraan beratnya 3kg saat dilahirkan dengan hitungan BB turun di pekan pertama. Hebohnya, di H+2 kami sudah didatangi bidan puskesmas terdekat atas laporan dari dinas kesehatan setempat soal penolakan pemotongan tali pusat. Kami menjelaskan soal lotus-yang baru diketahui bidan tersebut juga. Kami juga difoto loh, saya, suami, debay dan si plasenta tentu saja. Bidan tersebut mendatangi kami sampai 3x dalam sepekan guna memastikan efek lotus dan kesehatan bayi paska lotus. Bahkan di kunjungan ketiga, beliau menghadirkan dokter anak. Lumayan deh, saya malah konsultasi gratis nanya ini-itu.

Namanya 'Ammar Hafizh Adz Dzikr. Lahir Rabu, 26 Desember 2012 sekitar pukul 14.50. Mohon doanya ya agar si kecil menjadi anak shalih sesuai harapan orangtuanya :-)

New Mom




Setelah melewati lairan yang aduhai akhirnya saya ketiban sampur jadi ibu. Ibu baru dengan seabrek rutinitas baru yang bikin saya (dan suami tentunya) butuh adaptasi. Butuh belajar dan belajar lebih banyak lagi soal bayi dan pengasuhannya. Sebelum punya anak sih saya kira saya dah cukup belajar, cukup mahir dan cukup pengalaman soal bayi, ternyata betul sodara-sodara : saya cukup amatir :-D

Salah satunya nih, soal GS pada bayi. Growth spurt alias lompatan pertumbuhan yang bikin dedek yang kiyut jadi cabi dan pipinya gembil kayak bakpo. Siapa sih yang gak hepi bayinya membesar dan memanjang gitu. Tapi GS ini berefek pada berkurangnya ketentraman tidur saya. Bayi jadi banyak menyusu, lebih rewel dan berkurang porsi tidurnya. Lebih detil soal GS bisa sodara-sodara nanya ke pakdhe Gugel deh, soalnya kalo versi saya gak ilmiah ntar.

Yeah, GS itu diikuti dengan pola nenen yang terus menerus. Kayak si 'Ammar yang mendadak nemplok tiap satu jam, mimi teruuus. Persis perangko kena lem. Kalo kemaren-kemaren biasanya mimi sambil anteng trus tepar tidur, sepekan ini miminya riweh, ribut sambil ngerem-ngerem (berguman gak jelas), kakinya nendang-nendang dan sebentar-sebentar dilepas trus nangis minta asi lagi. Alhasil saya merasa mirip kucing peliharaan saya dulu kalo pas masa menyusui, ikut tepar dan gak bisa kemana-mana karena sebentar-sebentar si dedek kasih signal kelaparan.

Soal jadwal nenennya yang melonjak ini tadinya saya pikir asi saya kurang-ternyata kagak tuh. Posisi menyusui yang salah-enggak juga,udah sesuai pakem pelekatan menyusui. Atau karena dedek gak dapet hindmilk (asi kaya lemak dan mengenyangkan yang letaknya di belakang asi encer foremilk yang keluar di awal proses menyusui dan berfungsi ngilangin rasa haus)-sampai saya perah dulu sebelum kasih ke dedek biar dia dapet hindmilk, tapi kek nya juga enggak. Barulah hari ini saya dapet pencerahan soal periode GS yang terjadi di pekan dan bulan-bulan tertentu dalam masa tumbuh kembang bayi. Rasanya, AHA! Cling! (gambar lampu nyala).

Nah, gejala GS selanjutnya adalah rewel dan jam tidur yang berkurang. Kalo biasanya dia pules, bisa ditinggal macem-macem, ini bobonya cuma setengah jam, bobo satu jam itu jaraang banget, padahal udah ngadep kipas angin, deket pintu, dan sebelumnya udah digendong muter-muter sama abi-uminya dengan beragam pose. Asli dah, butuh variasi gaya saat gendong bayi yang rewel di fase ini, kadang diayun sambil jalan cepet en murojaah, kadang jalan pelan sambil nyenandungin pelan-pelan juga ato malah lari-lari kecil muterin rumah sama abinya sambil nyanyi merah saga, hihihi.

Malam hari adalah saat paling mendebarkan bagi newmom amatir macam saya kalo bayi lagi GS. Abis maghrib sih biasanya dia lelap bentar tapi abis isya sampai jam 24an saya ronda sambil nyanyi lagu begadangnya bang Haji. Masa-masa itu dedek maunya nenen sambil nangis, lepas, nenen lagi trus digendong gantian sama abi-uminya, jogging malam sampai kita mau tepar sementara si dedek masih seger buger nan rewel belom mau merem.

Pernah jam 21an kita bawa dedek naek motor, maksudnya biar dia ngantuk en bobo setelah seharian rewel. Emang bener sih, setelah muterin kompleks perumahan dia merem, sampe rumah langsung ngompol dan ngulet gak nyaman sambil nangis. Tepok jidat dah, lupa tadi gak dipakein pampers dulu. Akhirnya, ronda lagi dah.

Kepikiran juga sih buat ngasih asi perah pas malem dia nenen gaya tarik lepas kek gitu. Biar abi nya bisa bantuin nyusuin sementara saya bisa tepar, capek teu. Tapi kasian juga saya sama dedek en abinya. Kalo sufor sih gak kepikiran sama sekali, eman-eman anak saya. Bunda semua kalo gak darurat, mending jangan kasih sufor deh, udah mihil, gak ada apa-apanya dibanding asi. Pengen beli empeng juga buat menghalau nafsu menghisap dan rewelnya sampe malem, tapi baca efek empeng, wah, gak jadi juga dah. Selain dedek bisa bingung puting, secara medis juga banyak efek sampingnya. Mending ngalah deh rondaan malem-malem, tiap gendong sambil melangkah diniatin jihad biar lebih cetar membahana, hehehe.

Well, setelah melewati seminggu yang bikin mata kayak mata panda, tangan pegel dan betis makin subur, si 'Ammar udah mulai anteng lagi dan kembali ke rutinitas awalnya. Bobo anteng abis mandi pagi, nenennya juga udah gak nampak kelaparan kayak kemaren, 2-3 jam baru minta nenen, bobo juga lebih anteng.

Seneng banget nih abi-uminya, kayaknya butuh perayaan nih- meski bulan-bulan ke depan akan ada hari-hari penuh kejutan GS lagi. Tapi gak papa deh, asal abis itu bodi si dedek naik dan tambah sehat, saya maaah relaaaaa, hihihi. Maklum kita cuma berdua di rumah, orangtua baru, pemula nan amatir lagi, kebayang kan kalo lagi panik dikit-dikit gugling dan buka grupnya emak-emak soal bayi.

Padahal pernah loh sampe jam 12 malem saya gendong si dedek sendirian sementara abinya lagi mabit liqo, wah sampai berurai air mata gendongnya. Anak sama uminya sama-sama nangis, hehe. Makanya kalo lagi periode GS, maunya saya abinya di rumah terus-kalo perlu diiket biar gak pergi-pergi en bisa bantuin gantian gendongin si dedek sehari-semalam. Kagak perlu kerja en nyari duit- makan cinta aja, hahaha.

Masalah newborn bukan cuma GS loh. Soal cucian yang setumpuk akibat ompol, gumoh, keringetan juga jadi ajang olahraga cuci-cuci yang menyehatkan bagi kami. Suhu tubuh dedek naik dikiiit aja bikin kita langsung pasang termometer. Ada upil di idungnya bikin saya panik nyari cottonbud, khawatir dedek gak bisa nafas, ckckckck. Gak BAB sehari ajaaa bikin harap-harap cemas-padahal setau saya sih toleransi bayi asi gak BAB 14 hari loh. Ah, saya emang perlu banyaaaaaak sekali belajar dan terus belajar. Mengurangi rentetan keluhan saat lelah mengasuh dan menambah semangat mencintai si dedek dengan segala kebiasaannya. Bagaimanapun, anak memberikan lebih banyak kebahagiaan daripada secuil kerepotan ini. Betul kan ibu-ibu? Buat para calon ibu, gak usah parno, makin banyak menyiapkan diri insyaallah makin siap :-)

Tukang Cukur

Dulu sewaktu kami masih kecil, Ibu menjadi andalan dalam masalah cukur rambut. Dia tukang cukur keluarga yang patut dibanggakan. Soalnya Ibu sering membuat tren mode rambut tersendiri saat mencukur kami. Hasilnya seringkali baik-baik saja, tapi lebih sering lagi kami harus reparasi cukuran di salon. Terakhir saya dicukur Ibu saat kelas 3 SD. Di bawah pohon pisang di belakang rumah. Hasilnya? Poak alias gagal total. Sejak saat
itu saya dan sodara lain mengikuti jejak tukang cukur Bapak sampai saya SMA. Si Daniel di depan pasar Klampok dan si Rasum di Wirasaba. Herannya 2 tukang cukur itu rada-rada flamboyan dan melambai. :-D


Saat 'Ammar berusia 7 hari, saya meneguhkan hati untuk mencukur rambutnya sendiri yang tipis dan jarang-jarang. Saat dia bobo dan ileran, saya bergegas mengambil gunting dan kres-kres-kres....saya potong sedikit kok aneh, saya potong lebih pendek lagi, kres-kres-kres....

"Umiiii..." Abi tiba-tiba  masuk kamar dan shock melihat rambut 'Ammar yang raib tak beraturan. Saya cuma berhehehehe sambil asik mematut diri sebagai barber keluarga.

"Susah ternyata, rambutnya tipis"

Yaelah, rambut bayi bro!
Untuk pertama kalinya saya menjadi tukang cukur keluarga. Tanpa dibaiat. Tanpa peresmian.


Rambut 'Ammar akhirnya cepat tumbuh. Sudah tak nampak kegagalan cukuran saya. Meski tipis, rambutnya cepat panjang. Mungkin efek minyak kelapa yang dioleskan pada kepalanya setiap pagi. Aduhai, jangan ditanya bagaimana baunya ramuan tradisional bawaan tetangga dari Makasar ini. Bikin mabuk kepayang. Kalo ada semut nemplok di rambutnya bisa dipastikan semut itu akan terjerat karena lengket lalu mati perlahan karena baunya. Sehabis diolesi minyak kelapa rambut 'Ammar akan berkilau. Klimis seperti kumis mandor jaman kompeni.


'Ammar berusia 10 bulan 1 hari ketika rambutnya mulai gondrong. Ditambah mukanya yang kebule-bulean, 'Ammar yang kece sering disangka bayi perempuan. Saya juga gak ngerti kenapa dia suka dibilang bule dengan mata belonya. Abinya berdarah Bugis-Sunda sementara saya Jawa tulen. Mestinya sih dia blasteran Jawa dan mualaf Bugis bukan londobegitu. Meski kakek-nenek moyangnya ada yang nyerempet-nyerempet Belanda tapi itu jauuuh banged.


Tekad saya sudah bulat. Sebelum 'Ammar yang 10 bulan mengalami krisi identitas karena sering disangka cewek, akan saya cukur rambutnya. Tadinya saya berencana nyukur pas dia lagi bobo. Mumpung lagi diem. Tapi saya teringat bukit setrikaan yang menggunung. Okelah saya nyetrika dulu. Begini-begini saya kan pekerja rumah tangga yang handal


Begitu 'Ammar bangun saya datang membawa sebuah gunting. Tadinya mau bawa bambu runcing tapi udah gak up to date, jadilah saya bawa gunting biar praktis. 'Ammar memandang saya curiga. Saya menatapnya penuh kasih. 'Ammar makin curiga dan menggelengkan kepalanya ketika saya mulai memegang ujung rambut ikalnya.


"Tenang 'Ammar, Umi bukan mau ngebunuh kamu kok. Dicukur ya biar makin ganteng" ucap saya merayu. Ajaib 'Ammar diam takzim. Asik utak-utik mainan bebek yang saya boyong ke kamar. Padahal saya pikir 'Ammar bakal ngamuk trus merangkak muterin kamar sambil makan beling. Ternyata dia cukup kooperatif.

Kres-kres-kres, 'Ammar takjub memegang rambutnya yang jatuh. Saya jadi inget novel Tere Liye-Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin. Rambut ini pastinya juga gak dendam kan ke saya batin saya mellow. Setelah sisi kanan mulai beres, saya berpindah ke sisi kiri. Aduh, kok cukuran saya gak simetris ya panjang pendeknya. Saya asal menggunting rambutnya sana-sini. Kalo 'Ammar nengok kanan saya gunting yang kiri. Tengok kiri saya gunting kanan. Tengok atas, saya insyaf dari menggunting mulutnya. Putus asa dengan hasil guntingan yang kacau, saya ambil cukurang jenggot Abinya. Pelan-pelan saya rapikan. Kulit kepala bagian depan berdenyut-denyut tanda dia kehausan, saya makin panik. Makin asal mencukur.


Selesai. Saya menatap 'Ammar sekilas. Kepalanya gundul mengingatkan saya pada alien. Ammar memainkan rambut-rambut kepalanya yang berjatuhan. Yah, 'Ammar memang alien. Dia makhluk asing di rumah kami yang keberadaannya dirindukan. Makhluk asing dengan bahasa yang berbeda. Dia mengkomunikasikan segala sesuatu dengan bahsa tubuh dan tangisan bayi yang khas. Saya dan Abinya belajar memahami. Dia juga belajar beradaptasi dengan dunia barunya di bumi yang berbeda dengan dunia lamanya di rahim. Dia benar-benar alien yang merebut perhatian dunia kami.


Puk-puk. Ammar menepuk tangan saya. Kepala plontosnya membuat saya silau terkena pantulan cahaya dari jendela. Ini kegagalan kedua saya saat mencukur rambut 'Ammar. Paling tidak saya sadar bahwa profesi barber tidak cocok untuk saya. Saya lebih cocok jadi boss barbershop.

"Papung yuk 'Ammar. Kita bersihin rambut kamu" 'Ammar nyengir. Dia selalu suka bermain air. Sama seperti di rahim, dunianya dulu.

Rinai Hujan

“Dibooking atas nama siapa Mbak?” tanyaku memandang ke depan. Perempuan yang melamun di hadapanku kembali menatapku sambil tersenyum. Udara gerah. Awan yang mendung tak kunjung menurunkan hujan. Kipas angin berputar di angka dua. Andai tak ada pelanggan, ingin ku raih kipas di belakangnya dan menaikan volume sampai tiga. Pol.

“Hujan,” katanya.

“Eh?”

“Rinai Hujan,” jawabnya lagi.

“Namanya?” aku linglung dibuatnya.

“Rinai Hujan Mbak.” Tegasnya sambil memberikan kartu identitas. Aku ber o pelan kembali menekuri layar monitor.

“Baik, sudah terbooking Jogja-Balikpapan jam 08.35-11.20 atas nama Rinai Hujan. Total 607.000. Time limit pembayaran sore ini pukul 17” ucapku kembali seirama. Irama khas customer service saat melayani pelanggan pemesanan tiket. Ting ting tong tung.

“Saya ambil uang di ATM depan dulu,” si mbak Rinai Hujan beranjak dari duduknya. Tepat di depan kantor kami, seberang jalan, ada ATM berikut kantor cabang salah satu bank.

“Silakan” aku tersenyum tak sabar. Senyum pada si Mbak yang akan keluar sehingga aku bisa menjangkau kipas angin di belakangnya. Juga senyum senang karena hujan rintik mulai turun. Selamat tinggal udara gerah.

Eh,” langkah si Mbak Rinai terhenti saat tangannya hendak mendorong pintu. Aku yang keburu berdiri urung duduk. Wajahnya terarah padaku tepat saat hujan mulai deras.

“Ada salam dari si kecil,” katanya.

“Si kecil?” aku bertanya bingung.

Ia tersenyum ganjil sambil menunjuk atas. Atap? Langit? Hujan? Ia bergegas keluar dengan payung biru. Menyeberang jalan yang basah.

“Ada apa Mi?” suamiku keluar dari ruang sebelah. Sebutir nasi tertinggal di sudut mulutnya. Ia mendapatiku tertegun di depan kipas.

“Itu, hujan…” aku bingung harus berkata apa.

Perempuan dengan nama Rinai Hujan itu tidak pernah kembali setelahnya. Ia tak pernah mengkonfirmasi pemesanan tiket yang sudah dibooking. Ia hanya turun menyampaikan pesan.

#untuksikecilku

Sabtu, 08 Maret 2014

Ammar dan Sendok


Sejak suka meniru, Ammar mulai banyak mempraktekkan apa yang kami ajarkan. Salah satunya menyuapi. Sasarannya ya orang-orang sekitar, keluarga, teman, tetangga. Kalau sedang memegang makanan, ia tiba-tiba menyorongkan makanan ke mulut kita.


Nah, sejak itu pula Ammar mulai berkenalan dengan sendok. Awal-awal ia mengamati cara sendok menyendok makanan. Sepertinya asik sekali, mungkin begitu pikirnya. Lama-lama ia jadi naksir sendok. Dimana ada sendok, selalu coba ia ambil dan praktekkan cara makan dengan sendok.


Kalo lagi disuapin, ia ambil sendiri sendoknya, alhasil tumpahlah makanan. Makanya saya lebih suka menyuapi Ammar dengan tangan. Soalnya dia rada malas kalo tangannya dimasukkin ke makanan. Kadang Ammar suka membuka tudung saji, mengambil sendok yang ada di mangkok sayur, mengaduk-aduk isi makanan, memindah lauk ke tempat sayur. Yah, you know lah.


Maka tidak heran, saat saya beresin rumah hari ini (Ayah mertua dateng oi!) Saya menemukan banyaak harta karun berupa logam alias sendok. Di kamar depan alias mushola alis tempat ngetik saya nemu sendok, di kamar saya di atas almari ada sendok, di kamar mandi juga ada. Tak ketinggalan di halaman depan, di bawah jendela tempat Ammar membuang segala sesuatu saat iseng.


Sebenarnya menyenangkan melihat Ammar belajar memegang sendok, mengambil makanan dari piring-yang cuma dapet seuprit, kemudian mencoba menyenddokkan makana kemulutnya atau mulut orang lain. Ia belajar keseimbangan. Menentukkan posisi yang tepat saat memasukkan makanan ke mulut. Korrdinasi jari tangan dan mulut.
Tapi di luar itu, seseneng-senengnya saya bahwa Ammar belajar hal hebat dengan sendok, kadang suka kesel juga kalo makanan diberantakin. Namanya juga Ibu-Ibu :-D


Daaan....malam ini sebelum tidur, Ayah mertua mengeluarkan sendok dari kamar dean yang berhasil Ammar susupkan, Ammar lempar begitu saja tiba-tiba ke kamar depan.
Duh Nak, sendoknya buat maem aja yak....

Minggu, 16 Februari 2014

Bau

Seperti pagi-pagi sebelumnya,aku asik berkutat di dapur ketika Abi menghampiri sambil mengendus-endus. Tadinya Abinya 'Ammar ini di ruang tengah main sama 'Ammar. Entah angin apa yang membuatnya ke dapur.

 "Bau apae' Mi?" tanyanya.

 "Bau apa sih?" aku balik nanya.

 "Bau bangkai. Umi masak apa sih?"

 "Ngangetin ikan tuna kemaren" sambil ngunyah-ngunyah ikan goreng kriuk.

 "Ih,udah basi itu Mi. Umi mah sayang banget sama makanan basi"

 "Enggak ko.Nih lagi dimakan" aku monyongin mulutku yang mengunyah ikan.

Abi mendatangi wajan. "Iya, gak bau. Yang bau apa ya Mi?" aku menggeleng, tak mencium bau aneh.

 "Bau kotak makan Abi kali." kataku melirik tumpukan cucian piring yang belum sempat tersentuh.

Abi bergegas mendekat, mengendus-endus lagi. "Bukan ko. Bau apa ya Mi?" Aku menggeleng lagi.

 Entah hidungku yang bermasalah atau Abi yang salah bau. Dapurku fine-fine aja dari bau. Secara, langsung menghadap halaman belakang yang terbuka. Jadi sriwing-sriwing deh. Yang ada juga bau ikan tuna gorengku. Abi akhirnya masuk ruang tengah lagi sambil menggendong 'Ammar yang asik merangkak. Aku kembali ngurusin cabe, tomat, garam, ngulek jadi sambel sambil bersenandung.

Abi bermaksud memandikan Ammar ketika tiba-tiba, " Oalah 'Ammar pup tho."

 "Yee,piye tho Abi? Dari tadi bukannya 'Ammar sama Abi? Malah nyari bau di sini." Aku ketawa. 

"Lha,'Ammar diem aja je'" Abi ngeloyor ke kamar mandi.

 Hehehe, soalnya 'Ammar kalo pup biasanya kasih kode gitu. Duduk tegang sambil keringetan en mengeram-eram macam kucing dapet ikan. Jarang-jarang doi pup sambil anteng en tetep main :-D

Minggu, 15 April 2012

Istri Pertama Sang Lelaki

Perempuan itu melirik lelaki di sebelahnya. Lelaki dengan kacamata minus yang duduk menghadap laptop, kedua matanya asyik tertuju pada layar, sesekali senyum mengembang di wajahnya dan ketikan mengalir dari jari-jarinya.

Perempuan itu kembali melirik kecil. Sebal! Perempuan itu menghembuskan nafas pelan, sudah sejak setengah jam lalu ia duduk gelisah di sebelah suaminya. Pura-pura sibuk membaca, padahal ingin segera ia lempar buku di tangannya. Matanya berat, mengantuk, tapi tak enak beranjak duluan. Berapa usia pernikahannya, sepekan, ah...terlalu cepat untuk bosan.

 "Belum ngantuk?" tiba-tiba suaminya memalingkan muka ke arahnya. Kedua bola matanya tertuju pada si perempuan.

 "Eh, udah...eh, belum, nunggu Mas," perempuan itu meringis salah tingkah. Lelaki itu tersenyum. Tuh kan, Tuhan...senyum suamiku memang manis.

 "Kalo ngantuk tidur aja duluan," lelaki itu berkata acuh menghadap laptop kembali.

 Fhiuuh, kemana senyum lelakinya barusan? Perempuan itu tak menjawab, mulutnya mengerucut lucu. Masak iya, dia harus jujur kalo ia masih takut dengan rumah kontrakan baru mereka hingga tak berani tidur sendiri. Apa kata suaminya nanti? Bukan takut tepatnya, hanya belum terbiasa, perempuan itu merasa belum nyaman di rumah itu. Ia kembali pada buku di tangannya, membahas hal-hal romantis para pengantin baru. Romantis apaan? ***

 "Shadaqallahul 'Azhim," lelaki itu menutup mushafnya pelan sebelum meletakannya di atas rak buku. Si perempuan buru-buru memalingkan muka, malu ketauan sedari tadi memperhatikan tilawah suaminya.

 "Habis shubuh jangan tidur," lelaki itu melewati istrinya yang masih duduk di sampingnya, beranjak ke depan, membuka laptopnya. Perempuan itu menghembuskan nafas, kesal. Laptop lagiiii...mau tidur, bangun tidur, selalu laptop yang diurusin.

 "Mau minum apa Mas? Teh, kopi, susu?" perempuan itu akhirnya bertanya.

 "Susu aja..." jawab si lelaki tanpa mengindahkan istrinya, matanya tertuju pada laptop di depannya. 

Perempuan itu menghembuskan nafas pelan. Disodorkannya secangkir susu di samping laptop suaminya. Tanpa komentar dan ucapan apapun, lelaki itu menyeruput susunya sambil tetap menghadap laptopnya. Tanpa memandang si perempuan apalagi ucapan terimakasih. Apa sih yang bisa mengalihkanmu dari laptop, suamiku? ***

 Hujan turun dengan deras begitu mereka sampai di rumah. Si perempuan buru-buru mengganti pakaiannya yang basah. Membuatkan minuman hangat untuk suaminya. Perjalanan panjang tadi benar-benar membuatnya lelah dan ingin istirahat. Langkahnya terhenti ketika mengantarkan secangkir teh untuk suaminya. Lelaki itu, masih dengan baju yang sebagian basah-jaketnya sudah dilepas sedari tadi- duduk sibuk menghadap laptopnya. Keningnya berkerut dan berguman tak jelas. Ia benci pemandangan seperti itu belakangan ini. Laptop merebut sebagian waktu dan perhatian suaminya.

 "Ganti dulu mas, " ucapnya sambil meletakan cangkir teh.

 "Hemm, nanggung," jawab suaminya pendek sambil lalu. Si perempuan masih berdiri di sebelahnya, berharap mendapat sedikit saja perhatian dari suaminya.

 "Udah, kamu kalo ngantuk, tidur aja dulu,"
 Sempurna sudah. Perempuan itu berbalik mengemasi airmatanya yang hampir jatuh. Lebih baik tidur! ***

 Hmm, ternyata cerita di novel-novel itu benar. Dan suamiku masuk kategori itu. lelaki yang istri pertamanya laptop. Perempuan itu berguman sendiri, mengupas bawang merah sambil melamun. Mau protes rasanya berlebihan apalagi kalo pake aksi demo kayak jaman kuliah dulu, engga deh, perempuan itu menggelengkan kepalanya cepat.

 "Mikirin apa?" suaminya mendadak sudah di belakangnya.

 "Enggak," perempuan itu menjawab malas. Lelaki itu duduk di hadapannya, memandangi istrinya. Si perempuan cuma menunduk, hatinya masih kacau. Bawang merah di tangannya sudah selesai ia kupas, ia jadi kikuk sendiri.

 "Sudah selesai?" perempuan itu mengangkat wajahnya, menemukan sepasang mata suaminya yang masih memperhatikannya, "ada yang ingin kutunjukan," lelaki itu menggandeng tangan istrinya, mendudukannya di kursi depan laptop, tempat favorit si lelaki.

 "Maaf ya belakangan ini banyak mengacuhkanmu. Ada yang harus kukerjakan," tangan si lelaki dengan cekatan membuka laptopnya. membiarkan si perempuan masih tertegun dengan kejadian barusan, tumben suaminya menggandeng tangannya.Bukankah setaunya, suaminya tak seromantis itu?

 "Selamat milad istriku, novel ini kuhadiahkan untukmu. Insyaallah pekan depan sudah terbit," draft novel dengan sampul warna hijau muncul di depannya. Mengalihkan perhatian si perempuan dari hatinya yang gerimis. Hujan sekarang.

 "Kenapa hijau?" tanya si perempuan. "Bukankah itu warna favoritmu?" balas suaminya.

 Tuhan, bukankah selama ini ia tak memperhatikan hal-hal yang kusukai? Perempuan itu menghembuskan nafas panjang, ia banyak salah menduga tentang lelaki di sampingnya. Suaminya memang jarang menunjukan kepedulian terhadap hal-hal yang ia sukai, tapi lelaki itu tak pernah melupakannya. Mencatatnya dalam hati saja.

 "Suka?" tanya si lelaki. Perempuan itu tersenyum mengangguk. Suka sekali, gumannya dalam hati. 

"Terimakasih," si perempuan mengangkat wajahnya yang berkaca, memandang lelaki di sampingnya. Si lelaki mengangguk balas memandang wajah istrinya. Baginya, melihat senyum istrinya saja sudah membahagiakannya, apalagi ucapan terimakasih yang disampaikan dengan tulus, merekah sudah. Apabila seorang laki-laki memandang istrinya dan istri pun membalas pandangan suaminya, maka Allah memandang keduanya dengan pandangan rahmat.
Garasi, 19 januari 2012 ...warna-warna cinta...

Selasa, 10 April 2012

Syauqi*

Apa warna luka? Bukankah Tuhan yang memberi rasa bernama luka. Kita memaknainya dengan warna bumi. Begitu juga rindu. Apa warnanya?

Perempuan itu menarik nafas pelan. Udara terasa menyesakkan baginya. Dilihat ponsel merahnya yang berisik sepekan ini. Sms dan telepon masuk, ada yang singkat, ada yang sedang, ada yang panjang sampai terputus. Rasanya, telinganya berkurang kepekaannya demi mendengar suara-suara di seberang dengan nada sama. Cukup sudah. Hari ini perempuan itu ingin sendiri. Benar-benar sendiri dan jauh dari semua orang.

Selepas shubuh ia mengunci pintu kamarnya dan tak beranjak hingga siang. Diam mematung sambil merenung. Ingin ia matikan ponselnya yang masih terus berisik menanyakan kabar ini itu hingga hari ini. Tapi ia masih berharap pada seseorang. Masih berharap ada telepon masuk dari orang itu, minimal sms. Nyatanya sepekan ini nomor berakhiran 609 itu tak kunjung menghubunginya. Padahal ia merasa ingin berada di sebelahnya. Di sebelahnya saja tanpa berkata apa-apa. Itu sudah cukup.

 Pintu kamarnya diketuk pelan,
 “Makan dulu Nak,” pasti Ibunya. Buru-buru ia membuang ingus dengan tisu agar suaranya terdengar normal.
 “Belum lapar,”
 “Nanti sakit. Sejak pagi belum makan,” suara Ibunya khwatir.

 “Aku tadi bikin teh Mah,” ia melirik teh madu di meja yang masih separuh. Sudah dingin sedari tadi. Hatinya sesak lagi. Teh madu kan favorit orang itu. Ia membenci ingatannya sendiri. Suara Ibunya akhirnya menjauh. Kenal betul karakternya saat duka. Ia hanya ingin sendiri. Sepi sekali rasanya kehilangan.

Ada yang luka di hati. Apa warna luka? Ia tersenyum pedih.

Ponsel merahnya masih sepi dari orang yang ditunggunya. Diraihnya ponsel lain di sisi meja. Ponsel hitam sederhana kalau tidak mau dibilang jadul. Ia menemukan sebuah nama di phonebook, Sayangku. Picisan sekali. Ia menggelengkan kepalanya merasakan sesak di dadanya bertambah dua kali lipat. Kenapa harus ada nama itu di ponsel ini? Dibukanya kotak pesan. Lagi-lagi sms dari seseorang bernama Sayangku memenuhi barisan sms di sana. Ia membuka salah satu sms sambil menarik nafas, “Kalo enggak cinta, aku enggak cemburu!” Sms singkat dengan nada marah. Sms pendek beraroma cemburu. Ia melihat tanggalnya, tiga bulan lalu, untuk apa masih disimpan.

Perempuan itu makin sesak membaca sms-sms lain dari sosok Sayangku yang usang waktunya, tidak jelas isinya namun masih memenuhi kotak pesan itu. Kenapa masih disimpan? Hatinya berkabut. Iseng, ia malah menulis sebuah pesan,

 “Sayang, aku sudah sampai rumah. Kelak saat kau pulang, aku tunggu di gerbang,” Message sent to Sayangku.

 Diletakkannya ponsel hitam usang ketika ponsel merahnya bergetar. Sms baru. Ah, orang itu akhirnya sms juga. Sms dari orang yang sepekan ini ditunggunya siang malam. Senyumnya mengembang, perih sekaligus bahagia. Menertawakan kebodohannya mengirim sms untuk dirinya sendiri melalui ponsel suaminya. Kesepian dan rasa sendiri itu berubah menjadi kerinduan yang sempurna. Ada rasa cemburu yang mengigit. Jumat pekan kemarin suaminya tewas ditikam orang ketika mengisi pengajian di salah satu masjid di pelosok kampung. Pengajian rutin suaminya mengalihkan kebiasaan sabung ayam masyarakat kampung. Ia keburu pingsan untuk sekedar menengok bagaimana jasad lelaki itu. Toh ia masih ingat jelas percakapannya dengan suaminya pagi hari sebelum lelaki itu berangkat,

 “Sayang, Abang rindu syahid seperti yang dialami para pejuang muslim Palestina.”

 Perempuan itu menyusut air matanya. Ia juga rindu. Rindu pada suaminya. Namun lebih dari itu, ia cemburu pada suaminya. Ia juga merindukkan syahid sebagaimana syahidnya para mujahid.

Rindu bertemu Rabbnya. Apa warna rindu? Berpendar warna cahayanya mengelilingi bumi, melesat ke langit disambut salam.

 Rumah Cinta Al Hida, 16 April 2011 *Rindu

Minggu, 20 Maret 2011

Pulang....

Pulang menjadi salah satu kata favorit yang kupunya, aku menyimpannya di salah satu sudut saku bajuku. Entah mengapa, belakangan pulang tidak lagi masuk kategori favoritku, ia terasa asing dan membuat berdebar.

”Kapan kamu lulus nduk?” pertanyaan ibuku tempo hari ketika aku pulang membuatku tertohok.

Aku hanya mampu menatap kedua bola matanya lekat, melihat lebih jelas keriput di sekitar matanya dan kantong matanya yang menghitam.

”Udah lima tahun lebih kuliah, masih betah aja,” ucapnya lagi, kali ini sambil mengusap kepalaku perlahan.

Aku menatapnya lagi,

”Hmm, doakan secepatnya bu,” aku menggenggam jemarinya. Kedua tangannya terasa hangat.

”Ibu udah doain tapi kamunya sibuk. Jangan organisasi yang kamu urus terus, skripsinya jangan dilupain,” ibu menegaskan.

Aku meringis. Memang masih ada amanah kampus yang kupegang, tapi tak bijak rasanya mengkambinghitamkan itu. Seringkali masalah prioritas dan pembagian waktu saja yang membuat skripsiku terbengkalai.

”Segera lulus ya nduk, adikmu tahun depan juga masuk kuliah. Butuh biaya yang tak sedikit.”

Aku tersenyum samar. Sejak delapan tahun lalu ibu telah menjadi seorang single parent, tak mungkin hanya mengandalkan uang pensiunan almarhum bapak, untunglah ibu cukup mahir dalam boga, tak heran usaha catering ibu melaju dan mampu menghidupi kami.

Ibu tak pernah memaksa, ia adalah wanita paling demokratis dalam hidupku. Sejak kecil, ia membebaskan kami, anak-anaknya mengikuti berbagai kegiatan. Ia mengajariku bagaimana percaya dan bertanggungjawab. Tak heran, hampir tak ada rahasia diantara kami. Sejak kecil, kepercayaan ibu membuatku menceritakan semua lembar hidupku. Ia tahu pasti siapa cowok yang kusukai sejak jaman SMP, siapa karibku saat SMA hingga perjalananku di kampus. Ia bukan hanya ibu, ia sahabat dalam berbagi.

Aku diam-diam kelu. Sungguh, keinginan berbakti itu ada dan terus mengalir. Jika wisuda menjadi bahagianya, aku akan memenuhinya, melobi waktu agar berpihak padaku. Tapi, maaf ibu, lulus belum menjadi prioritas saat ini.
* * *


Pulang menjadi salah satu kata favorit yang kupunya, aku menyimpannya di salah satu sudut saku bajuku. Entah mengapa, belakangan pulang tidak lagi masuk kategori favoritku, ia terasa asing dan membuat berdebar.

”Usiamu sudah matang, berapa?” ibuku bertanya. Benang rajut ibu menggelinding dimainkan Belang, kucing kami.

”Dua puluh tujuh,” jawabku pahit. Teh yang baru kuteguk kehilangan rasa manisnya di tenggorokan. Sore yang tenang tiba-tiba kurasa tegang. Udara serasa tak bergerak. Padahal kuntum mawar kuning ibu bergoyang lembut menikmati musimnya.

”Sudah lebih dari cukup untuk menikah kan?” Ibu menurunkan kacamatanya sejenak, memandangku lekat.

Aku mengangguk, mencoba bersemangat. Mengerti alur pembicaraan ibu sambil menebak-nebak akhirnya.

”Adikmu minggu kemarin dilamar Bagas, priyayi Solo. Adikmu menunda pernikahannya, Afri ndak mau mendahuluimu,”

Suaraku sempat tercekat, ini rupanya kenapa ibu memintaku pulang. Aku cukup mengenal Bagas, ia adik tingkatku di kampus, kami juga pernah satu berada dalam satu lembaga d dakwah kampus.

”Dalam islam ndak ada aturan kalo adik ndak boleh mendahului kakaknya tho’ bu. Daripada ditunda, Asti rela. Jodoh kan udah ada yang ngatur, bukankah itu yang ibu sampaikan?”

Suaraku bergetar sedikit emosi.

”Iya nduk,ibu ngerti, bukan itu yang ibu permasalahkan tapi ini semua karena kamu sendiri yang dari dulu menolak orang. Jangan terlalu idealis nduk,ga harus sholeh banget tho? Apa namanya itu? ikhwan?”

Aku mengangguk mengiyakan, sedikit jengah. Mengingat beberapa episode di belakangku, sempat ada dua lelaki yang melamar, keduanya dulu satu SMA denganku. Bayu adalah lelaki yang cerdas, juga mapan sebagai seorang bisnisman tapi sayang yang ia tawarkan pacaran. Tyo juga, ia seorang yang idealis sebagai seniman sayangnya frame berpikir kami tentang keluarga berbeda.
Sejak berjilbab, Ibu paham betul prinsipku tentang ini. Aku menceritakan padanya bagaimana proses dan konsep keluarga yang kuinginkan.
* * *


Afri tersedu ketika kutegur rencananya menunda pernikahan. Bukan ia tak tahu dan ingin memperlama proses, tapi ia tak tega melangkahiku, begitu katanya. Duh Gusti, memangnya kenapa kalau dilangkahi?

”Afri tau mba dan sebetulnya tak ingin memperlama ini, tapi Afri ga’ mau kalo orang-orang jadi memandang negatif ke mba Asti,”

Helaan nafas Afri terasa berat, suaranya bergetar menahan perasaannya yang campur aduk. Masyarakat memang bebas memberikan label kepada wanita yang tidak jua menikah di usianya yang sudah tua, tapi bukakah penilaian mereka tak selalu benar? Allah lebih tau isi hati manusia.

Aku merangkulnya, tangisnya pecah di pundakku. Ya Rabbi, hamba dzolim telah menjadi penghalang dalam ibadah adik hamba.

”Sudah, tetap laksanakan secepatnya, mba akan menghubungi Bagas. Sudah hampir tiga bulan proses kalian. Jika masih kalian tunda, mba justru minta untuk dihentikan,” aku pura-pura mengancam.

Afri menatapku, bola matanya berkaca.

”Maafin Afri mba,”

Ah, tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu minta maaf. Sungguh rencanaNya jauh lebih indah, di waktu yang tepat.
* * *


Pulang menjadi salah satu kata favorit yang kupunya, aku menyimpannya di salah satu sudut saku bajuku. Entah mengapa, belakangan pulang tidak lagi masuk kategori favoritku, ia terasa asing dan membuat berdebar.

”Ibu ridho?” tanyaku memastikan. Tangannya hanya mengusapku pelan, gemetar menahan berjuta perasaan seorang ibu dalam hatinya.

”Jika ia memang jodohmu nduk,” bola mata Ibuku berkaca, baru pernah aku melihatnya begitu pasrah dalam keputusanku. Baru pernah aku melihatnya terluka dan terpaksa dengan keputusan yang kuambil.

Namanya Bowo, seorang duda dengan tiga orang anak yang masih kecil, bahkan anak bungsunya belum genap satu tahun. Istrinya meninggal dunia karena sakit enam bulan lalu.

Ia hanya lima tahun diatasku yang kini berusia tiga puluh tahun. Baru satu bulan aku mengenalnya, tapi visi keluarga dalam pandangan kami sama. Satu kata yang buatku tak mampu menolak, sholeh.
* * *


Pulang menjadi salah satu kata favorit yang kupunya, aku menyimpannya di salah satu sudut saku bajuku. Ia menjadi begitu berharga dan bermakna.
Melihat kebahagiaan Ibu ketika ia menggendong Ais yang mulai berlatih berjalan, atau memperhatikan bagaimana ibu begitu lekat dengan dua prajuritku, Hasan dan Husen yang begitu menyukai kue buatan neneknya.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Al Hida, 4 Desember 2009

Kamis, 10 Februari 2011

Mencari Jalan Pulang

Sore yang gerimis ketika Asa mengemasi barang-barangnya. Melipat sejenak kertas peta yang kian kumal di saku jaketnya.Tak banyak yang ia bawa untuk perjalanan menuju titik ini. Tidak seperti ketika ia merencanakan pergi plesir ke luar negeri dengan alasan memperkaya ilmu. Tidak juga seperti ketika ia berlibur ke pedalaman sana, berlibur dengan label melakukan kunjungan sosial. Tak lagi begitu.

Sore ini Asa memutuskan pulang. Ia hanya ingin pulang menepis semua risau berkepanjangan yang mengantui malam-malamnya. Mendekap kesadarannya yang lebih sering raib ditelan alkohol. Ia hanya ingin pulang.

Kampungnya sendiri telah lenyap. Tertimbun lumpur, menenggelamkan kenangan kanak-kanaknya yang riang. Bermain petasan kala ramadhan dan pencarian ikan-ikan kali di sore yang cerah. Toh, ia tetap akan pulang walau tak yakin benar kemana. Ia ingin pulang.

Langkahnya meragu di jalan yang makin menyepi. Sepi benar orang-orang yang seide dengan arah kepulangannya. Ia berhenti sejenak, memandang ombak yang berdebur di pantai, sejauh ombak melebur ke laut, akhirnya berpulang juga ke pasir pantai.

“Kemana?” seseorang tiba-tiba sudah ada di sisinya, bertanya begitu saja. Asa menengok, mengeluarkan kertas kumal yang menjadi petanya, menunjukan sejenak pada orang asing yang berwajah menyenangkan.
“Akan jauh sekali,” orang asing berkomentar ringan.
“Aku tahu,” Asa menjawab singkat.
“Kau butuh bekal, mampirlah dulu di sini. Menyusun materi dan menyiapkan bekal. Tinggalah untuk beberapa lama.”
Asa nampak berpikir, memandang jauh ke lautan ombak.
“Itu kalau kau mau. Tak ada salahnya istirahat sembari membangun jejak di sini,” orang asing itu menghembuskan asap rokoknya, membuat lingkaran-lingkaran di udara.
“Tapi ini jembatan,” Ara protes.
“Jembatan ini begitu luas dan tak akan pernah kau merasa sempit karenanya,”
“Bagaimana bisa?”
“Begitulah adanya, pesona jembatan ini mampu menjerat orang-orang yang ragu. Melemahkan tekad dan mencintai dunia,”
“Aku tak begitu,” terang Asa menolak.
“Kau dulu begitu. Pernah begitu dan menikmati duniamu di atas jembatan lain. Mari kita ulang peradabanmu.”
“Aku akan membangun peradabanku,”
“Tentu saja,”
“Tapi bukan di sini,”
“Sudah ku katakana, tak ada yang sempit di sini,”
“Tidak, kau salah. Aku akan membangunnya di kampung titik akhir.”
“Kau bercanda, bukalah matamu untuk jembatan ini,”
“Ini hanya jembatan kawan.”
“Helo? Tidakkah kau terpesona karenanya,”
“Pernah. Aku sudah pernah kagum. Aku telah terbiasa hingga jenuh dan bosan menyergapku di jembatan sebelumnya.”
“Kali ini tidak,”
“Tidak kawan. Aku akan pulang. Kerinduanku memuncak untuk bertemu denganNya,”

Orang asing itu menghilang. Suara ombak kembali berdebur mengembalikan eksotisme pantai dan lembayung senjanya.

Asa kembali melangkah melewati jembatan pada titik akhir yang misterius. Sudah waktuya berhenti bermain-main dengan dunia. Ia akan pulang ke kampung akhirat karenanya ia harus terus berjalan. Jembatan hanya untuk singgah, bukan menetap.Tak lazim bukan tinggal di atas jembatan, begitulah perumpaan dunia.
Diliatnya lagi peta lecek di tangannya, tertulis jelas judulnya, “Peta menuju Khusnul khatimah”

Rumah cinta Al Hida, 20 Januari
Gelang sipatu gelang, gelang si rama-rama
Mari pulang..marilah pulang…marilah pulang bersama-sama

Selasa, 08 Februari 2011

Baca Buku- Baca Dunia

Liburan semester genap kali ini terasa begitu panjang. Secara, udah jadi semi pengangguran paska amanah-amanah. Jadi terasa lebih longgar sekaligus cepet bosan. Setelah pekan kemarin liburan ke pantai Trisik bersama punggawa rumah cinta Al Hida, pekan ini asyik baca novel. Syndrom baru penghuni Al Hida euy.

Ada Perahu Kertas tulisan Dewi Lestari, aduh gokil en asyik banget dibaca. Anatar si Kugy yang suka nulis dongeng peri Lobak dan ngaku utusan dewa Neptunus-makanya suka ngirim perahu kertas berisi surat, hasil memata-matai bumi. Juga si Keenan, pelukis yang ambil jurusan Manejemen demi ortunya, nah lho...jangan-jangan kalian juga gitu. Kisah-kisahnya unik en cocok buat refresing sambil baca di suasana santai.

Buku lain yang lagi dibaca (emang suka baca buku bareng-bareng nih :D) adalah AL Qandas Al Kamil, terbitan anomali badai otak. Yang nulis Alkin, ngakunya sih dokter :p. Ini gak kalah gokil mesti ngakunya buku motivasi. tapi ada ibrah yang diambil dari sudut pandang lain. Kegagalan itu benar-benar sempurna deh.

Kemarinnya lagi baca novel The Fallen Angel, tulisannya si Zulfary terbitan Mizan, tentang akhwat yang jadi feminist en feminist yang jadi akhwat. Alurnya rada lama en membingungkan (apalagi ada halaman yang terbalik) tapi nambah wawasan tentang kefeminisan. Makin menggugurkan rencana buat daftar sekolah feminis :D

Juga baca novel remaja, Icang The LOve Story punya Afifah Afra, kisah cinta si playboy sekaligus perjalannya main bola yang khas Indonesia, keroyokan euy kalo kalah.

Hmmm...baca emang bikin liburan lebih berwarna. The next book, Breaking Down...antara si Bella, Edward yang vampir dan Jacob yang manusia serigala.

Sabtu, 15 Januari 2011

dan hujan menceritakannya

sejak bulan kemarin malam

kita mulai menghitung waktu yang tercecer

tertinggal entah dimana

atau kita yang tak ingat waktu?

sedang langkah tak lagi padu



sejak bulan kemarin malam

kau mengasah pisau tajam

membuang ingatan sayang

dan bekal perasaan



sore ini hujan, kawan

membanjiri air mata

kau simpan pun percuma

hujan menceritakannya sepanjang jalan

perempuan yang kupanggil ibu

waktu enggan mempertemukan kita di sudut simetris ruang

pun abstraknya hati

tak selalu kita artikan sepadan

rinduku adalah sepotong senja

mengantarkan kita pada gerimis

melabuhkan ingatan tua

pada jendela yang tak lagi sama

pun, selalu ada salah satu dari kita di sana

senja adalah cara kita menemukan jalan pulang

sementara yang lain mulai menutup jendela

menyalakan lampu teras

dan menunggu

aku atau kau yang menjemput malam

Jumat, 31 Desember 2010

pada hujan yang sebentar

pada hujan yang sebentar 1

seiris senja kita bagi dua
barat dan bunga yang layu
sambil menunggu hujan berhenti
kau bercerita

harga-harga memang naik
kereta ekonomi juga
tapi aksi adalah harga mati

kau berangkat melampaui senja
di gerimis yang panjang
menanggalkan senja yang lain
di ujung hari lain



pada hujan yang sebentar 2

aku suka sekali jendela kita
menghadap selatan, menyambut setiap yang datang
tanpa letih meski kecewa menggumpal
menyunggingkan senyum miris
gerakan mahasiswa kacau, keluhmu

jendela yang terbuka mengantarkan angin sore
kadang membuat masuk angin, saat
hujan turun deras, walau sebentar
tapi tak pernah kita tutup

caramu tertawa mengingatkanku, pada
ombak yang mengalun tak berirama
menggugat rasa yang kupaksa
mati kehujanan setiap kau tak peduli kata




pada hujan yang sebentar 3

jam dinding kita rusak
aku berdendang menghitung waktu
melawan suara hujan di kejauhan
makin keras derunya
seperti dentuman di dadaku
kenapa kau tak kunjung memberi kabar?

kebasahan kau masuk tiba-tiba
melupakan waktu dan cerita
mengejar hujan yang sebentar
karena malam ini akan kelam
kau hanya tunjukan bintang
bahkan tak tampak warnanya

aku melihat hujan
mengantarkanmu sebentar
pamit lagi membawa hujan di jaketmu
kapan kau berakhir?

Belajar dari Warna-Warni Lalu

Kenapa seseorang memiliki masa lalu hingga menjadi kenangan?

Kenapa masa lalu setiap orang tak selalu baik hingga meninggalkan aib?





Siang ini saya berkesempatan kuliah bersama mahasiswa 2008, anak-anak semester 5 yang nampak semangat 45’.

Kuliahnya menarik, bahkan saya merasa lebih bersemangat kuliah di tahun ini.

Saya sempat berpikir (sedikit menyesal tepatnya), kenapa saya harus kuliah semester ini.

Kenapa dua kali saya mendapat kesempatan kuliah mata kuliah ini saya sia-siakan dengan tak pernah masuk kuliah.

Coba kalo saya sudah mengambil kuliah ini dua tahun lalu, mungkin saat ini saya sudah ujian, imaginasi saya berputar.





Tak pernah bermaksud menyalahkan kesibukan saya kala itu.

Pilihan aktivitas di luar daripada duduk tenang di dalam kelas.

Sadar betul bahwa kesalahan ada pada menejemen saya yang buruk.





Pikiran saya kembali berputar, kenapa ya setiap orang memiliki masa lalu dan kenapa tidak semua orang memiliki masa lalu yang baik.

Tidak semua orang menjadi baik sejak lahir.

Tidak semua orang bersih sejak baligh.





Ada yang pernah nakal di masa kecilnya, bertindak sembrono di kala remaja atau bahkan tak tahu jalan ketika dewasa.

Ada fase kehidupan yang bukan putih, bisa saja hitam, abu-abu, biru, merah, hijau dan ungu.

Masa lalu.

Pernah saya meminta pada Tuhan agar menghapus ingatan saya pada salah satu fase dalam hidup yang tidak saya sukai.

Benar-benar berharap hilang ingatan pada babak-babak itu.





Kemudian saya berpikir ulang, apa jadinya jika saya tidak memiliki masa lalu, tidak memiliki aib.

Saya jelas bukan Muhamad saw yang ma’shum lagi rendah hati.

Dan jika saya tak memiliki masa lalu yang penuh keisengan itu bisa jadi-dengan mengukur diri saya- saya pasti akan menjadi orang yang sombong lagi angkuh.

Menjadi seseorang yang tak akan pernah bertoleransi kepada kesalahan orang lain.

Menjadi orang pertama yang menyalahkan ketika ada orang yang berbuat alpa.

Bagaimana lagi, saya manusia tanpa salah coy.

Bisa jadi itu sikap saya jika saya tak memiliki fase hidup yang warna-warni.





Tiba-tiba saja saya bersyukur pernah melewati warna-warna hidup selain putih.

Merasa diberi kesempatan untuk belajar dan memahaminya di fase selanjutnya.

Begitu juga dengan kuliah yang saya ambil di semester ini.

Saya sudah diberi dua kesempatan kuliah di tahun-tahun sebelumnya, tapi rupanya Alloh benar-benar baru mengijinkan saya mengikuti mata kuliah ini tahun ini, di semester sembilan.

Alloh benar-benar membuat hidup saya tak sempurna, Ia tak selalu mengabulkan semua keinginan saya namun Ia selalu memberikan dengan tepat apa yang saya butuhkan di waktu yang tepat.

Sungguh.

Rabu, 08 Desember 2010

Prestasi Kepemimpinan Kita

Bagaimanapun caranya engkau lahir ke dunia, kau telah dijemput takdir untuk menjadi seorang manusia. Makhluk dengan keluwesan akal pikiran untuk memahami konsep vertical horizontal kehidupan. Hubungan transedental ketuhanan dan social kemasyarakatan. Tak berlebihan jika manusia mengantongi gelar makhluk sempurna dalam jajaran hamba Allah lainnya.

Sama halnya dengan kelahiran manusia menjadi pemimpin. Peran kekhalifahan yang tak mampu diemban langit, ditolak gunung dan ditampik bumi. Ada pemimpin yang dilahirkan karena sengaja disiapkan dengan beragam treatmen, ada pula pemimpin yang lahir karena momentum, situasi yang memaksa. Toh keduanya selalu berkaitan dan saling mempengaruhi. Seorang pemimpin yang lahir karena momentum paling tidak pernah menyiapkan dirinya menjadi pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Mengelola akal, hati dan jiwa yang melekat padanya. Torehan Prestasi Pedang Allah

Tak ada yang menyangka, lelaki yang menggentarkan kaum muslim dalam perang Uhud- perang yang mengantarkan banyak sahabat dan para penghafal Al Qur’an syahid di medan jihad, di kemudian hari justru menjadi komandan perang kaum muslim.
Ialah Khalid Bin Walid, seorang yang memohon kepada Rasulullah agar memintakan ampun pada Allah atas masa lalunya begitu ia berbaiat masuk islam kelak kita kenal sebagai pedang Allah Yang Terhunus. Bukan semata karena ketangkasannya berperang namun juga kecerdikan strateginya hingga mampu menundukkan kaum murtad, membumi ratakan kerajaan Persia dan Romawi hingga menjelajahi bumi Irak dan dimenangkannya islan di tanah Syiria. Prestasi sejarah yang Allah catatkan untuknya semasa menjadi komandan perang kaum muslim.
Catatan prestasinya tak menjadikan Khalid menjadi panglima yang serakah, lihatlah bagaimana seruannya sebelum perang melawan Romawi,
“Hari ini adalah hari-hari Allah. Tak pantas kita di sini berbangga-bangga dan berbuat durhaka. Ikhlaskan jihad kalian dan harapkan ridha Allah dengan amalmu. Mari kita bergantian memegang pimpinan, yaitu secara bergiliran. Hari ini salah seorang memegang kepemimpinan, besok yang lain, lusa yang lain lagi sehingga seluruhnya mendapat kesempatan memimpin.”
Kerendahan hati yang lembut kita rasakan dalam kata-katanya yang mengguah. Tak heran, ketika khalifah Umar bin Khatab mengganti posisi komandan perang dengan Abu ‘Ubaidah, Khalid dengan kejujuran dan kerendahan hati yang mendalam mengungkapkan bahwa, sama saja baginya menjadi panglima ataupun prajurit. Masing-masing membawa kewajiban yang harus ditunaikan kepada Allah yang ia imani.
Berbekal Tekad Yang Menghujam
Bagaimana dengan prestasi kita dalam memimpin, sedangkan profil kepemimpinan kita terang dilihat dari bagaimana titah kita memimpin diri. Bagaimana nurani mampu mempengaruhi keputusan dan hati menjadi raja atas akal bukan menjadi budak atas nafsunya. Karenanya, menjadi pemimpin juga perkara tekad, bukan sekedar torehan pretasi. Azzam yang kuat untuk mengelola jasad, akal dan hati.
Sementara kita kebanyakan terbiasa dengan sesuatu yang instan, menginginkan semua siap saji tanpa perlu waktu dan proses yang matang. Tidak ada tekad yang kuat untuk melakukan sesuatu. Inilah kemiskinan yang menggerogoti jiwa-jiwa kita, miskin tekad. Tekad yang kecil dan lemah membuat kita tak memiliki orientasi
Bukankah Rasulullah saw adalah manusia biasa dengan tekad yang luar biasa. Impiannya membumikan islam bukan perkara membalikkan telapak tangan. Ada tekad yang lahir dari keyakinan dalam dadanya. Tekad yang membutuhkan kerja-kerja nyata. Tekad yang bukan sekedar ’ingin’ namun juga ’akan’. Tekad dengan usaha,
“…kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (terjemahan surat Ali Imron ayat 159)
Keberkahan Usia Kepemimpinan
Waktu menjadi catatan kepemimpinan yang mengikuti alur usia kita. Selama-lamanya masa yang kita habiskan untuk memimpin diri maupun orang lain, tidak menjadi jaminan prestasi kepemimpinan kita. Hakikat keberhasilan usia ada pada keberkahannya. Jika usia kepemimpinan yang panjang dapat benar-benar bermanfaat untuk kebaikan lebih banyak orang, itulah sebaik-baik kepemimpinan. Segala perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali pada pemimpin yang beriman. Jika mendapat nikmat, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Alif laammiim, janganlah ditanya kenapa, biar saja Allah yang tahu alasannya. Tugas kita sebagai muslim adalah menyiapkan lembaran sejarah kepemimpinan dengan mengoptimalkan segenap potensi kebaikan. Janganlah ditanya bagaimana kelak sementara momentum selalu datang lebih cepat daripada persiapan yang mampu kita himpun. Tugas kita adalah menghidupkan tekad kepemimpinan. Biar nanti takdir yang menjemput usaha kita. Jika kelak menjadi prestasi, maka biarlah ia menjadi jejak-jejak yang menginspirasi tiap generasi.
Partai TUGU UNY, Together with you..